Bismillah

Selasa, 22 Mei 2012

Nembak? (apa kata dunia?)

dakwatuna.com – “Assalamu’alaikum. Afwan, benarkah ini nomor ukh Reisha?” suara di seberang sana dengan khas yang tegas, tertangkap di telingaku.
“Wa’alaikumsalam, iya, ini… Ishan? Ada yang bisa Ana bantu?” jawabku penuh tanya heran.
“Na’am, benar ukh. Ini Ishan. Ana tidak menganggu kan? Afwan.”
“Tidak, tafadhol. Ada apa?” suaraku coba menegaskan.
“Mm… langsung saja ukh. Afwan, ee… Ana boleh mengajukan ta’aruf dengan anti, ukhti?” suara tegas itu dengan perlahan memberanikan diri, tepat pada inti pembicaraan nampaknya.
“…..” kagetku bukan main, hampir lepas rasanya hp Samsung yang kutempelkan di telinga kiriku. Seraya kemudian menangkupkan telapak tangan kanan tepat di bagian jantungku, dan berujar amat pelan ‘masya Allah…’.
“…ukh, afwan. Jika sekiranya Ana lancang. Tapi, mohon kejelasan dari anti menanggapi hajat Ana ini.” Kembali suara di seberang itu memecah keheningan, sementara degup ini semakin kencang kurasa.
“…a-afwan, tidakkah Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum?”tanyaku, meneliti.
“Mm… sesudah ada tanggapan dari anti, akan Ana sampaikan ke beliau.”
“Masya Allah akh…  ” kataku lepas.
“Kenapa? Adakah yang salah, ukh? Atau, Ana harus memberi jeda waktu untuk anti jawab, agar benar-benar memikirkan tentang maksud Ana ini?”
“…” diam kembali, aku mengkondisikan hati.
“Ukh Reisha? Afwan.”
“Ee… hh… semestinya, Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum. Karena memilih seseorang untuk dijadikan pendamping hidup itu tidak main-main, akh. Hendaknya ada musyawarah agar tidak salah langkah… afwan.” Tegasku.
“… Iya ukh, afwan Ana lancang. Lantas, bagaimana menurut Antum terkait hajat Ana ini?” lagi, suara tegas itu berani melempar tanya.
“….”
“Ukh?”
“Mmh… afwan akh, Ana tidak bisa”, kutundukkan kepalaku
“Kenapa? Ana salah ya, ukh?” tanyanya, polos kudengar.
“Ana,… Ana ndak menafikkan keluhuran akhlak Antum, dari yang Ana dengar di luar sana tentang Antum, insya Allah. Justru Ana yakin, ada akhwat yang jauh lebih baik yang kelak lebih pantas bersanding dengan Antum.”
“… Alasan anti, tidak jelas ukh. Afwan. Jika memang anti tidak meragukan Ana, begitu pula Ana kepada anti, Ana mantap. Insya Allah anti-lah akhwat yang terbaik itu… maka Ana memberanikan diri, afwan.”
“…”
“Ukh?”
“…karena, … Ana sudah dikhitbah…”
“Allahu Akbar…” dzikirnya pelan terdengar dari seberang sana.
“…” hening.
“…ya ukhti, Barakallah. Semoga anti bahagia bersamanya.”
“… amin ya Rabb, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Ana yakin, ada akhwat yang terbaik yang menunggu Antum.”
“Na’am ukh, Insya Allah. Amin. Syukran dan … afwan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warohmatullah…”
Klik!
Lemas kuterduduk di sudut kamar,  “Antum terlambat, akh…” lirihku…air mata akhirnya tumpah jua,..
“Allah sedang mengujiku rupanya…”selaku, pelan dalam tangis,.
“Rabbi, aku yakin Ayash-lah ikhwan yang terbaik itu, bukan Ishan!” Kembali kucoba menenangkan hati. Nafsuku untuk makan malam setelah shalat Isya tadi hilang. Kemudian bergegas kembali wudhu, dan mengambil obat hatiku. Lembaran Qur’an itu ku lahap, sesekali kuhapus kembali air yang mengalir di pipi.
Kucoba muhasabah diri setelah lembaran-lembaran suci itu kubaca.
Dulu, ada kesan memang kurasa. Ya, nama Ishan pernah berkelabat dalam hatiku, kagum, dulu, ya dulu. Namun, kala itu langsung kubersihkan hati. Malu pada Nya.
Entah mengapa dulu sempat kuberpikir, sosok ikhwan seperti Ishan itulah dambaan imam-ku kelak. Heum… mungkin karena dulu ia adalah mahasiswa nomor satu di kampus, ah… wahai diri, betapa duniawi sekali!
Seorang khalifah dalam rumah tanggaku kelak tidak harus punya pengalaman memimpin ribuan mahasiswa di kampus. Kataku menepis kala itu dengan senyum semangat.
Betapa tak kaget diri ini, ternyata Ishan memiliki keinginan untuk bersanding hidup denganku. Tidak masuk akal. Dari mana ia kenal aku? Dan, siapalah aku?
Hanya Mahasiswi yang tidak begitu suka dengan kegiatan kampus berbau politik seperti yang dia geluti, tidak bisa ber cap-cip-cus mengkritisi pejabat pemerintah yang kerap ia dan teman-teman dalam organisasinya itu nikmati. Siapa aku?
Ach, mungkinkah karena aku seorang yang aktif di lembaga dakwah? Yang bergelut dengan urusan keislaman? Berjibaku dengan dunia keakhwatan pula? Sehingga aku terkesan… keibuan??
Memang pernah aku sebentar berkomunikasi dengannya, dulu. Kurang lebih, enam bulan yang lalu. Tepat ketika ketua organisasi-ku memberi mandat menjadikan aku sebagai koordinator akhwat dalam agenda Bakti Sosial Ramadhan, untuk kemudian bekerja sama dengan  lembaga mahasiswa yang Ishan pimpin. Tapi di adegan mana yang aku bersamanya??
Apakah ketika aku diminta akh Amin (partner kerjaku dalam agenda itu) menelepon nya pertama kali untuk sekedar bertanya,
“Saya bisa minta nomor HP yang aktifnya Menteri dalam Negeri?”, pun ia hanya jawab simple,
“Oh, begini, HP Danu hilang, coba hubungi staf ahli-nya saja, nomornya…. ”.
Sudah, tak ada komunikasi lagi.  Hanya kenangan nomor hp Ishan saja yang masih ada dalam barisan daftar contact di Samsung-ku. Cukup, itu saja.
Jika memang itu penyebabnya, sungguh sekarang ingin rasanya kumarah dengan akh Amin, kenapa beliau kala itu begitu sibuk!
Ahh, adakah diri ini yang menggoda? Astaghfirullah…
***
“Assalamu’alaikum, mbak Reisha… kok sendirian?” ujar Suni sambil bercipika-cipiki denganku, setelahnya ambil posisi duduk di depanku. Staf Kemuslimahan yang paling ceria dalam team ku di organisasi, Alhamdulillah kini ia sudah berjilbab.
“Wa’alaikumsalam, iya nih.  Nunggu temen-temen pimpinan akhwat, sore ini mau iftor pimpinan.” Jawabku sambil melempar senyum padanya.
“Aku temenin ya mbak? Biar gak ilang… berabe –kan kalau ketua kemuslimahan diculik. Ahhaha…” godanya.
“Heuh, ngawur!” kemudian kucubit pipi kirinya yang tembem seperti kue bakpaw, kesukaannya.
“Aduuuh… sakit tau mbak.” Sambil meringis dan mengelus-elus pipinya dengan tangan kiri.
“Iya deeeh… afwan. Makanya, jangan nakal yah! Heum…” nasihatku sambil mengelus kepalanya, bak seorang ibu pada anaknya.
“Mm… mbak, gimana kemaren?” lanjutnya kemudian.
“Gimana apanya? Kemaren? Apaan?” sahutku memborong kata tanya.
“Heuh… pura-pura. Itu loh… kalo’ kata istilah jahiliahnya… peristiwa ‘penembakan’… hehe…” segera ia sangga dagunya dengan kedua tangan, menatapku dengan senyum penasaran. Sementara kuputar kembali memoriku di episode kemarin, apa yang dimaksud oleh ’bocah’ ini, kemudian berusaha memaknai kata ‘peristiwa penembakan’.
“Mbak bener-bener gak paham, Suni… kalau ngomong yang jelas ah!”
“Euummmck… iya, iya, itu… mmm, kak Ishan, gimana?”
“Masya Allah…” sontakku, berubah wajah penuh tanya kembali, dari mana ‘bocah’ ini tau? Batinku.
“Kenapa mbak? Mbak kaget ya, kok aku bisa tau. Hehe…”
“Suni, mbak serius, ada apa ini? Suni kok bisa tau kak Ishan?”
“Lha, mbak kok gak gaul sih?! Aku kan adeknyaaaa….”
“Serius?!!”
“Yaiyalaah, masa’ yaiyadhoong… duarius deh! Gak mirip ya mbak? Kami emang beda, aku cantik, kak Ishan ganteng. Hehe”
“Suni, mbak Reisha gak suka seperti ini. Ada apa sebenarnya? Kak Ishan dan Suni… kemudian peristiwa penembakan yang Suni maksud.” Kulempar ekspresi serius padanya.
“Mbak, aku takut ach. Ekspresi mbak kaya’ gitu. Marah ya…”
“Jawab saja pertanyaan mbak, Suni… ”
“Mmm… sebenarnya sudah beberapa lama ini, aku diem-diem jadi spy kid, menyelidiki mbak Reisha… Atas perintah kak Ishan…  aku cuma niat nolong kak Ishan aja mbak! Tapi sekarang pekerjaanku dah beres kok”. Ia menatapku dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Kenapa musti mbak? Dan apa saja yang sudah adek laporkan ke kak Ishan tentang mbak?”     tegasku bertanya kembali.
“Sabar mbak… sabar…”
“Eeeuuhhh, Suni benar-benar buat mbak gregetan. Buru cerita!”
“Iya mbak iya, ampuun… mm… kak Ishan itu sedang mencari isteri yang solehah, terus aku merekomendasikan mbak. Udah deh… terus aku disuruh untuk melaporkan apa adanya yang aku tahu dari mbak ke kak Ishan, dan konklusinya kemaren kak Ishan katanya… ‘nembak’ mbak. Ya kan?”
Nada dering sms-ku tiba-tiba berbunyi… menjeda percakapan kami.
Assalamu’alaikum. Ukh, besok siang bunda mau ke asrama anti, mau kasi gaun pengantin katanya. Oya, sekalian Ana titipkan 700 lembar undangan pernikahan kita, ke bunda. Anti sibuk gak besok?”
sender:  +628xxx  Akh Ayash
“Mbak… aku minta maaf kalau aku ternyata salah…” ujar Suni melanjutkan, mengambil perhatianku yang terpaku pada layar hp hitam putih itu, namun membuat rona di relung hati. Kukondisikan hati kembali.
Kuhela nafas. “Heum… sudahlah. Sekarang sudah selesai.”
“Sudah selesai? Jadi keputusannya apa mbak? Mbak bisa jadi mbak ipar aku yah? Yah?” tanyanya penasaran seraya melemparkan senyum.
“Tanya saja sama kakakmu!”
“Mbaaa… kak Ishan dari kemaren gak mau ngomong kalau Suni tanya… mbak jawab donk, biar aku gak galau.” Tanganku ia goyang-goyangkan.
“Pssstt… berisik, kalau gitu ditunggu aja sampai kakakmu bicara.”
“Mbaaaaaaa….” Rengeknya manja.
“Udah ach, mbak mau pergi, tuh temen-temen pimpinan dah pada dateng. Dadagh…  Assalamu’alaikum…” kucubit kembali pipinya, kali ini lebih kuat.
Terdengar jeritan suaranya, sementara aku lari menuju sekelompok akhwat berjilbab syar’i itu, kubiarkan Suni mengaduh kesakitan sendirian di sana.
***
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan..; Itulah keberanian.
Atau
Ia mempersilakan..; Yang ini pengorbanan.

Selasa, 08 Mei 2012

Devisi Syiar UKM Kerohanian KBM UNIB


Video Spesial For PKK Mahasiswa Baru Universitas Bengkulu Tahun 2011.
Produksi Devisi Syiar UKM Kerohanian KBM UNIB Periode 2011.
Maju Terus UKM Kerohanian KBM UNIB dan LDK yang ada Di Bengkulu.
Semoga Selalu Allah Memberikan Rahmat dan Kekuatan Kepada kita Semua.Aamiin..

Jumat, 04 Mei 2012

Mengamati "Syiar" Super Junior

Kamis, 3 Mei 2012 17:35:00

Oleh: Abdullah Shiddiq

Sebenarnya, bisa dikatakan wajar, para remaja sekarang sangat menggandrungi Super Junior. Lihat saja bagaimana Super Junior serius dalam menghibur para penonton, teliti dalam mengkonsep, tak kenal lelah dalam berkarya.

Ingin mengatakan kalo remaja kita sangat labil? Kayaknya nggak juga. Banyak juga kok remaja yang cerdas, rajin, dan sudah banyak berkarya juga menjadi ELF (Ever Lasting Friend, sebutan untuk penggemar setia Super Junior). Bahkan isunya banyak juga jilbaber yang cukup rajin mengoleksi karya mereka. Walaupun mungkin jumlahnya sedikit dan mungkin mereka itu kurang rajin ngajinya :P .

Ingin mengatakan Super Junior itu gak mutu, banci, lipsync, lebay? Toh mereka banyak menyabet gelar-gelar penghargaan di dunia hiburan, musik, dan lain-lain. Banyak menjadi icon bahkan dalam produk-produk skala internasional. Menjadi duta di bidang-bidang penting. Dipercaya bahkan oleh pemerintah Korea Selatan untuk kontribusi dalam even-even besar Negara.

1. Performansi dan Kualitas

Tak diragukan lagi performansi mereka yang wah. Terlihat dari lantunan lagu, kekuatan vokal, skill menari, dan lain-lain. Tidak kalah juga kekompakan mereka yang semakin membuat para penonton betah untuk mengikuti perkembangan group ini.

Tentu saja hal-hal tersebut bukannya diperoleh dengan latihan sebulan dua bulan. Bahkan konon katanya mereka dilatih semenjak masih berusia belia. Dalam waktu pelatihan hingga menjadi suatu group boyband yang terkenal hingga sekarang sudah tidak terbayang lagi "cucuran keringat" yang telah dikeluarkan. Kerja keras dan kedisiplinan yang tidak terlihat kecuali setelah bertahun-tahun lewat. Godaan untuk putus asa akan terus ada. Tapi Super Junior mampu melewatinya.

Lebih dari itu, juga dikabarkan dalam proses maintenancenya, para personel didisiplinkan untuk menjaga berat badan, makanan, hiburan, jadwal istirahat, dan lain-lain. Mendengarnya saja mungkin kita sudah stress. Juga untuk menjaga kesetiaan fans, tak heran berlaku larangan untuk menjalin hubungan pacaran kepada setiap personelnya.

SuJu in action

2. Membaca Objek Pasar

Pada awal munculnya Super Junior, ada 13 personil di dalamnya. Dari 13 itu bukan lah personil dengan tipekal yang mirip. Ada jenis personel yang gagah perkasa, ada yang agak feminin, ada yang cool, ada yang banyak omong, ada yang jenaka, dan lain-lain. Dengan bermacam-macamnya kriteria tersebut, dapat dipastikan memperoleh fans lebih banyak ketimbang satu artis vokal solo.

Terlebih lagi, dengan banyaknya personil, akan terbentuk kelompok-kelompok fans yang saling mem-flame (menghina kelompok fans tertentu lewat idola nya ataufans-nya). Dari situ, justru akan semakin menguatkan kecintaan pada idolanya masing-masing, seperti kita lihat difans sepak bola atau fans aliran musik.

Begitu hebatnya mereka membaca ketertarikan pasar. Penulis yakin, untuk membuat group Super Junior ini, pihak pendirinya terlebih dahulu membuat suatu studi yang mendalam untuk membaca pasar. Hal-hal seperti analisis segmentation, targeting, positioning sudah lumrah untuk menunjukan keseriusan dalam pemasaran.

Pada intinya, mereka sangat serius dalam membaca pasar. Semua hal-hal yang mereka lakukan bukanlah sesuatu yang baik atau keren atau indah menurut mereka saja, tetapi juga berupaya untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan, dibutuhkan, dan disetiai oleh pasar.

3. Inovatif dan Dinamis

Seberhasil apapun suatu produk, apabila tidak ada inovasi, akan ditinggalkan oleh pasarnya. Hal ini yang penulis lihat dipegang kuat oleh manajemen Super Junior. Lihat saja cara berpakaian mereka, gaya rambut, genre music, dan seterusnya. Setiap single hampir berbeda jauh dengan single sebelumnya. Dengan begitu, fans semakin penasaran dan setia di dalamnya.

4. Biaya Besar-besaran (High Budget, High Impact)

Kira-kira berapa banyak yang mereka habiskan dalam setiap karyanya. Berjuta-juta rupiahkah? Bermilyar-milyar rupiahkah? Yang pasti tidak sedikit. Membayar tenaga ahli, menyediakan fasilitas, mencetak album, gaji personil.

Belum lagi ketika konser. Panggung yang mewah, peralatan audio visual yang canggih, konsep yang luar biasa. Tentu saja menghabiskan dana besar-besaran.

Setelah itu, hasilnya. Ribuan penonton bersedia merogoh kocek dalam-dalam, histeris ketika Super Junior mulai beraksi, bersedia mengoleksi album, souvenir , dan lain-lain.

Evaluasi dan Renungan

Sudah saatnya kita berhenti mengkritik orang lain tetapi melupakan kinerja kita sendiri. Semua orang jika ia bekerja cerdas, keras, ikhlas, tuntas pasti mendapat probabilitas keberhasilan yang sama. Jangan harap upaya kita dalam syiar Dakwah yang setengah-setengah bisa menandingi syiar maksiat Super Junior.

Pernahkah kita mengevaluasi performansi dan kualitas kita dalam menyampaikan seruan Islam. Bagaimana pakaian kita ketika khutbah. Intonasi dalam ucapan lisan, atau penggunaan kata-kata nya. Begitu juga dengan Dakwah bil qolam. Belum lagi kegiatan-kegiatan atau program-program yang kita laksanakan. Pantaskah untuk bisa menarik perhatian orang banyak.

Pernahkan kita mengevaluasi tentang kebutuhan mad'u kita? Pernahkah kita mengevaluasi tingkat inovasi kita dalam menyampaikan Islam? Seberapa besar dana kita dalam infaq fi sabilillah dalam rangka Dakwah Islam?

Bukan berarti penulis menginginkan para asatidz, atau murobbi atau kakak mentor kita untuk menjadi boyband. Bukan itu. Akan tetapi kita tingkatkan kinerja kita. Salah satunya fungsi Dakwah kan mencoba untuk mengcountergodaan syetan keduniawian dan fitnah-fitnah syahwat dan syubhatnya. Apabila syetan dengan segala kekuatan mengajak orang kepada neraka. Lalu kenapa kita hanya setengah-setengah menjauhkan orang lain dari neraka dan mengajak ke surga.

Teringat perkataan dosen dalam kuliah komunikasi pemasaran. Saat itu pak dosen menjelaskan bagaimana usaha-usaha pabrik rokok dalam mengiklankan produknya. Bermilyar-milyar bahkan bertrilyun-trilyun mereka habiskan. Dimana-mana kita liat iklan rokok. Di even musik, acara olahraga sepakbola dan olah raga lain, iklan tv yang memukau dan budget tinggi. Akan tetapi, setelah itu pihak kampus dengan gampangnya dan rendah budgetnya melarang merokok. "kayak PKI" canda pak dosen. Gak berimbang. Mana mau masyarakat meninggalkan rokok hanya dengan itu.

Syiar Islam VS Syiar Suju

Lalu mungkin ada anggapan, "yah wajar aja, Super Junior itu kan profit nya gede banget. Makanya mereka mau aja capek-capek."

Apakah kita masih meragukan ganjaran dari Allah. Surga yang mengalir air susu dan madu di dalamnya. Bidadari yang cantik jelita. Keindahan dan kenikmatan yang tidak akan tertandingi oleh kenikmatan dunia apapun itu. Apalagi hanya profit keuangan.

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

"Janganlah kamu berhati lemah dalam menghadapi suatu kaum. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (An Nisa: 104)

Wallahu a'lam.

(shoutussalam/arrahmah.com)